Ketika Ustaz dan Pendeta Bekerja Sama Bangun Pesantren untuk Yatim

Posted by rarirureo on 1/24/2017

Ketika Ustaz dan Pendeta Bekerja Sama Bangun Pesantren buat Yatim


BOGOR, Selama tiga hari belakangan ini, setiap pagi, suasana di Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, terasa lebih dingin.

Cuaca kerap gerimis dengan embusan angin dingin yg menyelinap melalui jendela dan menusuk pori-pori kulit.

Saat itu, Selasa (17/1/2017) pukul 07.00 WIB, aku duduk di kursi kayu depan rumah di Desa Mampir.

Di ujung jalan, aku melihat Abah Asep menenteng bambu panjang yg telah dibelah bagi memperbaiki saluran air tetangga.

Abah Asep adalah seorang tukang bangunan yg membangun Pondok Pesantren Darussyifa. Dia bekerja dibantu Ustaz Agus Sofyan, santri dan sejumlah warga.

Saat sedang libur dari pekerjaannya membangun pondok, Abah biasanya bekerja di tempat lain, atau pulang kampung ke Cianjur.

Melalui Ustaz Agus, aku menjadi tahu bahwa Abah Asep sedang semangat-semangatnya mengerjakan pembangunan pondok. Padahal, dia telah lama tak mendapat upah.

"Katanya (Abah) pengen cepet-cepet naik (masang atap)," ucap Ustaz Agus yg akrab disapa Pak Ustaz ini.

Menurut Ustaz Agus, Abah Asep makin bersemangat bekerja membangun pondok karena dua hari dahulu ada kiriman material dari Yayasan Putri Bungsu. Bantuan itu tiba pada waktu yg pas ketika pengerjaan pondok terhenti dua hari karena kehabisan material.

Indra Akuntono/Kompas.com Abah Asep, di sela-sela pembangunan Pondok Pesantren Darussyifa, di Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/1/2017).
Saat ini, pembangunan pondok pesantren memang masih bergantung pada bantuan orang yang lain sehingga ketersediaan material sulit diprediksi.

Untuk makanan tukang pun sering mengandalkan singkong yg ditanam di dekat lahan pondok, atau menu kiriman dari warga.

Tapi seluruh keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat Abah dan lainnya bagi membangun pondok. Semua yg terlibat dalam pembangunan pondok menjalaninya dengan penuh ikhlas.

Pembangunan pondok tersebut digagas Ali Wijaya dan Ustaz Agus. Informasi mengenai rencana pembangunan pondok tersebar dari mulut ke mulut, sampai sumbangan akan terkumpul.

Pembayaran lahan dicicil dari hasil urunan akan Januari 2016 dengan harga Rp 350.000 per meternya. Dari luas 300 meter persegi, ketika ini pembayaran lahan tersisa sekitar Rp 16 juta.

Lalu medio Oktober-November 2016, penjual tanah tidak mengurangi kelonggaran waktu melunasi pembayaran lahan. Itu artinya, sumbangan yg terkumpul sementara mampu dialihkan buat memulai pembangunan pondok.

Pertengahan November 2016, pembangunan dimulai dengan anggaran cuma sekitar Rp 5 juta.

Seorang pendeta yg akrab disapa Pak Jhon dulu tiba menyumbang keahlian menggambar denah bangunan.

Ada juga warga yang lain yg menyumbang mesin pompa air, menyumbang jasa menggali sumur, bambu, kayu, keramik dan genteng bekas, serta lainnya.

Dari sumbangan-sumbangan itu, pembangunan pondok dapat berjalan selangkah demi selangkah.

Kini, pembangunan telah berlangsung sekitar tiga bulan. Di atas lahan pondok telah berdiri beberapa kamar mandi, sesuatu tempat cuci dan sesuatu gudang yg ke depannya berfungsi menjadi dapur.

Tempat mengaji dan kamar juga telah akan berbentuk, tapi atapnya belum tertutup, dindingnya masih setengah.

Ustaz Agus dan santri-santrinya berharap pondok dapat langsung digunakan bagi mengaji, syukur-syukur dapat bagi kegiatan Rajaban nanti.


Untuk yatim dan jompo

Sesuai namanya, Pondok Pesantren Darussyifa kelak menjadi tempat mengaji dan tinggal anak-anak yatim piatu serta orangtua jompo.

Tidak ada pungutan biaya buat siapa saja yg ingin belajar dan tinggal di pondok tersebut.

Saat ini, sekitar 10 santri dewasa dan belasan anak-anak masih mengaji di rumah kontrakan Ustaz Agus yg lokasinya tak jauh dari pondok, di Perumahan Griya Cileungsi 5, Kacamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Ustaz Agus berprinsip, meskipun tidak mendapat bayaran tetap, yg utama anak-anak mau mengaji dan mendapatkan waktu bermanfaat.

Seringkali, para santri dewasa yg mengaji kitab kuning di malam hari sampai tidur di teras kontrakan Ustaz Agus karena keterbatasan tempat menginap.

"Nanti, kalau telah jadi, pondok pesantren ini mudah-mudahan jadi obat dari seluruh penyakit," kata Pak Ali.

Indra Akuntono/Kompas.com Anak-anak desa mampir usia mengaji, Minggu (22/1/2017).
Meski pembangunannya mengandalkan sumbangan, Ustaz Agus dan para santrinya tetap bertekad bahwa suatu hari pondok ini bisa berdikari. Kehidupan di pondok ketika pembangunannya selesai nanti telah dipikirkan sejak ketika ini.

Ada dua teman yg telah tiba ke pondok dan mengajari cara menanam dengan metode hidroponik. Ada juga ide membuat dan menjual kerupuk, beternak hewan, mengoperasikan komputer, mungkin juga belajar menyablon dan hasilnya dibagi bagi operasional pondok.

Warga pondok terbiasa "menikmati" kesulitan. Karena, seandainya memakai rumus matematika, sulit rasanya membayangkan kelanjutan biaya pembangunan dan operasional pondok.

Tapi Ustaz Agus, Pak Ali dan para santri optimistis bahwa pondok mulai mandiri karena percaya hidup ini bukan sekadar matematika.


Source : regional.kompas.com

Share this

Blog, Updated at: 21.30

0 komentar:

Posting Komentar