MANILA, - Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Selasa (24/1/2017) melemparkan serangan kepada dinas intelijen AS, CIA.
Menurut Duterte, CIA secara diam-diam mengendalikan penggerebekan yg gagal terhadap seorang anggota militan Islam yg mengakibatkan 44 polisi tewas beberapa tahun lalu.
Pasukan komando kepolisian menewaskan Zulkifli Abdhir, yg menjadi salah sesuatu buronan paling dicara pemerintah AS.
Zulkifli tewas dalam penggerebekan di sebuah pertanian terpencil di wilayah selatan Filipina tempat berbagai kelompok pemberontak berada.
Namun, sejumlah orang bersenjata menjebak pasukan kepolisian dan dalam pertempuran selama sehari penuh, 44 orang polisi tewas.
Penggerebekan itu dikerjakan di masa pemerintahan Benigno Aquino, pendahulu Duterte.
Operasi ini mengakibatkan upaya buat menciptakan perdamaian dengan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), kelompok militan Islam terbesar di Filipina, gagal.
"Mengapa segala ini ditutupi? (karena) Ini adalah operasi CIA," ujar Duterte.
Duterte melayangkan tuduhanya itu di hadapan para janda ke-44 polisi yg tewas dalam penggerebekan itu, setelah menerima mereka di Istana Malacanang, Manila.
Selain menuduh CIA, Duterte juga menyalahkan Aquino karena tidak mengirimkan bantuan dan membiarkan para polisi itu tewas.
"Sebab pemerintah tidak mau berisiko memulai perang baru dengan MILF, yg telah menandatangani perdamaian 10 bulan sebelumnya," tambah Duterte.
"Tak cukup menyampaikan kepada rakyat bahwa ini adalah kesalahan Anda. Anda (Aquino) harus mengakui apa yg Anda lakukan," lanjut Duterte.
"Anda melemparkan para prajurit ini ke kandang singa dan membiarkan mereka dimangsa," Duterte menegaskan.
Duterte yg telah memerintah selama tujuh bulan coba melepaskan aliansi dengan AS dan berupaya mendekati China dan Rusia.
Source : internasional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar