SALATIGA, - Para pegiat budaya di Kabupaten Semarang mendesak pemerintah setempat langsung mewujudkan sebuah museum bagi menyimpan temuan benda-benda purbakala."Jangan cuma diinventarisir saja, perlu langkah penyelamatan agar tak hilang," ujar Ketua Paguyuban Peduli Cagar Budaya Ratu Sima (PPCBRS) Kabupaten Semarang, Sutikno, Selasa (14/3/2017).
Menurut Sutikno, seandainya sebuah museum atau rumah arca mampu diwujudkan, pihaknya optimistis upaya penyelamatan peninggalan serta cagar budaya mulai terlaksana secara berkelanjutan.
Tempat tersebut nantinya bisa digunakan buat penelitian maupun obyek wisata edukasi buat masyarakat, khususnya pelajar.
"Tidak cuma di Gedongsongo, tetapi di wilayah lainnya juga banyak ditemukan. Seperti di Bergas, Pringapus, Bawen, Tuntang, Ambarawa bahkan di Ungaran sendiri," ujarnya.
Sutikno mengajak masyarakat yg peduli terhadap warisan budaya buat mencurahkan pemikiran demi terwujudnya museum ini.
Pihaknya pun mengapresiasi masyarakat melalui sejumlah komunitas peduli cagar budaya yg ikut mengawasi benda-benda cagar budaya yg ada di tengah-tengah masyarakat.
"Tapi tak cuma menginventarisir atau melaporkan ke instansi terkait saja, namun tetap mengedepankan pengawasan. Jangan sampai benda maupun cagar budaya pindah lokasi," tuturnya.
(Baca juga: Belum Ada Tempat Menyimpan, Benda Sejarah di Semarang Dikubur Lagi)
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, Dewi Pramuningsih menegaskan, pembangunan sebuah museum bagi menampung benda-benda purbakala bukan sekedar wacana.
Saat ini pihaknya sedang mengkaji tentang standar pengelolaan sebuah museum. "Insyaallah telah dianggarkan. Sekarang sedang mengkaji standar pelayanan minimal museum itu seperti apa," kata Dewi.
Seperi diketahui, 2014 lalu, sebuah misi ekskavasi dari Pusat Arkeologi Nasional di kawasan yg diduga menjadi lokasi jejak peninggalan Wangsa Sailendra di Dusun Ngreco, Desa Kesongo,
Sebelumnya, tim ini telah lebih lalu menemukan potongan batu bata, gerabah, arca jaladwara, serta batu umpak candi di lokasi yg sama. Sebagian artefak yg ditemukan, seperti gerabah dan batu bata, telah dibawa ke pusat penelitian.
Sementara itu, temuan yang lain berupa umpak candi dan jaladwara terpaksa dikubur lagi di lokasi penggalian lantaran tak ada tempat penyimpanan.
Source : regional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar