"Apakah Gas ke Rumah Saya Ikut Mati Kalau Listrik Mati?"

Posted by rarirureo on 2/03/2017

"Apakah Gas ke Rumah Saya Ikut Mati Kalau Listrik Mati?"

BALIKPAPAN, - Ida Mahmuda, warga RT 23 Kelurahan Karang Jati, Kecamatan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, digaji Rp 1,5 juta setiap bulan sebagai pegawai kebersihan sebuah rumah sakit negeri.

Gaji sebanyak itu, menurut Ida, sangat berat buat menghidupi empat anak di Kota Balikpapan yg serba mahal.

Karena itu, ia bekerja sambilan menjual cemilan goreng, kopi, teh, dan beragam minuman cepat saji yang lain di teras rumah. Tapi, jualan juga memerlukan ongkos besar.

Ia harus merogoh rata-rata Rp 60.000 per bulan cuma buat membeli 3 tabung elpiji 3 kilogram.

"Paling tidak jarang bagi masak air (jualan minuman). Bila habis uang beli gas terpaksa memasak pakai magic jar listrik," kata Ida.

Ida mendadak kembali bersemangat karena distribusi gas kota mengaliri dapurnya sejak sepekan lalu.

Gas seolah tak habis meskipun telah lebih sepekan dipakai. Ia juga tak khawatir kehabisan gas, usaha kaki limanya pun berpeluang lebih baik. Meteran gas yg terpasang di luar rumahnya baru memamerkan angka 1,5 kubik.

"Itu berarti Bu Ida harus membayar Rp 5.000 bagi pemakaian gas selama sesuatu pekan ini," kata Direktur Minyak dan Gas Bumi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral IGN Wiratmaja.

Wiratmaja tiba ke Balikpapan buat mengecek segera penyaluran pertama kali gas kota di Balikpapan.

Ida pun melihat potensi pemakaian gas yg irit. Ongkos beli gas pun terasa mulai lebih ringan.

"Karena lalu dapat beli 3 tabung tiap bulan. Ini mampu lebih murah (Rp 20.000-an)," kata Ida.

Ida yaitu salah sesuatu dari 3.849 warga Balikpapan yg akan menikmati aliran gas kota akan Kamis (2/2/2017). Ia pelanggan pertama jaringan gas kota tersebut.

Ia mengucapkan terima kasih pada Dirjen Migas karena menjadi warga yg dapat menikmati gas murah.

"Pak Dirjen, aku mau tanya. Apakah gas ke rumah aku ikut mati kalau listrik mati," tanya Ida.

Pertanyaan itu disambut tawa oleh segala orang yg mengiring Dirjen Migas. Wiratmaja menegaskan bahwa gas tak terpengaruh keadaan listrik.

Jaringan gas kota di Balikpapan sejatinya telah menjadi wacana lama sejak 2012. Pemkot Balikpapan sudah memulai sosialisasi bahkan lobi, baik kontraktor migas hingga Kementerian ESDM, bagi mampu memanfaatkan dua sumur migas yg telah tak berproduksi ini. Sayang, rencana itu berhenti begitu saja di tahun itu juga.

Pada 2015, niat membangun gas perkotaan kembali diwujudkan. Sosialisasi semakin gencar. Pembangunan jaringan pipa gas dikebut di 2016 dan dapat dialiri akan awal 2017 ini.

"Padahal kami telah pernah mencanangkan sebagai city gas di 2012. Chevron ketika itu belum milik rencana mengaliri gas ke rumah tangga. Sekarang segala (pihak) serius," kata Asisten II Bidang Perekonomian Pembangunan, Kesejahteraa Rakyat Pemkot Balikpapan Sri Soetantinah.

Pembangunan jargas di Balikpapan menelan biaya Rp 49,7 miliar. Gas didapat dari sumur kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Chevron Indonesia Company, dengan alokasi 0,5 MMSCFD.

Pengelolaan distribusi gas ini dikelola PT Pertagas Niaga (PTGN) dan bekerja sama dengan perusahaan daerah.

Wiratmaja mengatakan, jargas mulai selalu dikembangkan ke kota lain. Tahun ini di Bontang dengan 10.000 sambungan dan Samarinda dengan 1.500 sambungan.

PTGN juga membidik Pekanbaru, Muara Enim, Panukal Abab Lematang Ilir, dan Mojokerto. Total sambungan dapat sampai 130.000 sambungan.

"Pertamina juga mengembangkan jargas non-subsidi di Jambi dan Prabumulih," kata Presiden Direktur PTGN Linda Sunarti.


Source : regional.kompas.com

Share this

Blog, Updated at: 08.30

0 komentar:

Posting Komentar