Trump Tidak Asing bagi Asia Tenggara

Posted by rarirureo on 1/19/2017

Trump Tidak Asing untuk Asia Tenggara
Oleh: Karim Raslan

SAAT ini dunia seakan terbalik. Kita melihat seorang "Raja Asia" di Washington DC yg gampang tersinggung, pemarah, dan pendendam. Orang-orang Asia Tenggara mengenal "karakter" seperti Donald Trump.

Kita sudah melewati pemimpin-pemimpin seperti Trump dalam dua dekade terakhir, seandainya bukan berabad-abad. Kita telah tidak jarang berhadapan dengan kemarahan seorang pemimpin yg tidak jarang berubah-ubah pikirannya.

Ini seperti telah menjadi bagian dari DNA politik kita. Bukan berarti kalian menyukai raja yg sewenang-wenang dalam memerintah tapi kalian cuma coba mengerti mereka.

Bagi kita, seluruh ini hanyalah tentang bagaimana kami mampu bertahan hidup. Bagaimanapun juga, politik kerajaan mampu menjadi sangat kejam.

Kita mengenal para "leluhur" Trump seperti Raja Narathu dari Myanmar (yang diduga membunuh ayah, kakak, dan istrinya) atau Amangkurat I dari Mataram (yang memiliki kebiasaan buruk membunuh para pengkritiknya).

Di zaman modern, kami menemukan Norodom Sihanouk yg memiliki sifat kekanak-kanakan hingga Presiden Ferdinand Marcos yg serakah, dan Ne Win yg tergila-gila dengan kekuasaan. Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan sudah menjadi bagian dari dunia ini.

Para pengusaha tentunya memiliki lebih banyak pilihan dan berada dalam "rombongan" Donald Trump. Mereka mulai mendekati pasangan muda berpakaian elegan yg tidak jarang menemani mantan bintang acara realita itu ke manapun dia pergi.

Lingkungan orang dalam yg dimiliki tiap raja yg sewenang-wenang biasanya diwarnai oleh hirarki kekuasaan. Dalam pemerintahan Trump, Jared Kushner dan istrinya Ivanka menduduki kekuasaan tertinggi.

Ini sangat ironis mengingat pemimpin yg menghuni Zhongnanhai adalah orang yg sangat berbeda.

Perlu diingat bahwa Beijing dan Kota Terlarang ("Forbidden City") sudah melahirkan banyak pemimpin dengan gangguan mental, seperti Kaisar Yang dari Dinasti Sui hingga Permaisuri Dowager Cixi dari Dinasti Qing dan bahkan Mao Zedong.

Xi Jinping adalah pemimpin yg melambangkan prinsip teknokratis. Dia sangat rasional, tenang, namun sekaligus tak memiliki belas kasihan. "Pemimpin utama" Beijing ini adalah seseorang yg terus mempertimbangkan, merencanakan, dan melaksanakan setiap langkah dengan cermat dan seksama. Bagi Presiden China, tak ada yg namanya suatu kebetulan.

Apakah ini cuitan marah-marah pada pukul 2 pagi? Saya rasa tidak.

Ini adalah tanda bagaimana tahun 2016 sudah mengalahkan perhitungan geopolitik kami dan menunjukan bahwa China bisa memainkan peran dengan baik di persaingan global. Coba amati kehadiran Xi Jinping di Davos.

Masalah kecocokan antarpribadi juga mempersulit situasi ketika ini.

Bagaimana kedua pemimpin ini mengatasi perseteruan mereka? Apakah ada orang yg dapat membayangkan Trump yg sensitif dan berubah-ubah pikirannya mulai bekerja sama dengan Xi yg tenang dan keras kepala? Sebuah hubungan yg gampang terpancing amarah mulai memiliki dampak yg sangat buruk untuk perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Hubungan "bromance" antara Trump dengan Putin yg baru-baru ini muncul menerapkan pedoman dalam pemerintahan yg ditinggalkan oleh Presiden Richard Nixon pada tahun 70-an saat Henry Kissinger dan Zhou Enlai bersatu buat mengucilkan Uni Soviet.
Kemungkinan besar Rusia yg lemah secara perekonomian dan demografis tak bisa memainkan peran yg serupa dalam menghadapi China selama 40 tahun ke depan.

US Department of Defense Presiden China Xi Jinping melakukan penghormatan dalam upacara penyambutan yg diselenggarakan oleh Presiden AS Barack Obama di Gedung Putih pada September 2016.Kebijakan Amerika di Asia sebelumnya gampang dibaca seperti sebuah buku yg terbuka. Pada dasarnya mereka mulai terus berusaha mengontrol perkembangan China dengan seluruh jenis upaya dan bekerja sama dengan pihak-pihak lain.

Jika Trump memaksakan kehendaknya (seperti percakapan melalui telepon dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen), maka segala ini mulai menjadi sia-sia.

Para pemimpin China mulai kebingungan dengan aksi Trump yg terus mengundang publisitas. Mereka juga mulai memiliki sedikit keterangan tentang apa yg mulai Trump lakukan.

Trump mencapai kekuasaan dengan dukungan rakyat yg merasa Amerika tertinggal. Sebab itu, dia tak mulai membiarkan China maju tanpa memberi perlawanan. Keangkuhan dan hasratnya buat terus mengutamakan Amerika mulai menghalangi hal tersebut.

Hal ini mulai mempersulit situasi di Asia Tenggara, khususnya terkait sengketa Laut China Selatan. Penyelesaian persoalan ini membutuhkan kebijaksanaan dan kecerdasan dari seluruh pihak yg terlibat. Sebuah solusi yg baik tak terus harus berakhir dengan pihak yg menang dan yg kalah.

Namun, obsesi yg serupa antara Trump dan China mulai "kemenangan" menandakan bahwa negara-negara Asia Tenggara mungkin tak bisa melakukan manuver seperti yg kami telah lakukan sejak dahulu.

Negara-negara seperti Vietnam bisa bertahan dan berkembang selama puluhan tahun dengan memanfaatkan pertikaian antara kedua belah pihak. Opsi ini mungkin tak mampu dikerjakan lagi sekarang (seiring Singapura yg berhasil dengan cepat menyadari perseteruan mereka di Hong Kong), sebagai akibat dari retorika Trump. Tak ada sesuatu pun dari kami di Asia Tenggara yg ingin memilih cuma sesuatu pihak saja.

Melihat tantangan yg besar tersebut, mengapa para elit di kawasan ini kebingungan? Itu mungkin karena kalian terbiasa dengan macam "kepemimpinan" yg mulai Trump laksanakan di Amerika.

Kami sudah melihat semua jenis bualan kosong yg bertujuan menjatuhkan moral pihak tertentu, terutama saat Asia Tenggara pertama kali berhadapan dengan kedatangan orang-orang Eropa. Sebagian besar nenek moyang kita, yg mengetahui bahwa mereka kalah jumlah, cuma memiliki sedikit pilihan.

Mereka berusaha memukul mundur pihak asing dengan cuma mengandalkan retorika namun menyerah pada akhirnya. Karena di Asia, orang-orang yg memiliki kekuasaan cenderung hati-hati dalam mengeluarkan pernyataannya.

Banyak pihak menyadari kehebatan Xi sehingga dia tak perlu mengandalkan retorika. Hal ini mungkin yaitu pelajaran pertama untuk Trump. Orang yg diam adalah sebaliknya, mematikan. Sementara kapal yg kosong cenderung membuat kegaduhan.


Source : internasional.kompas.com

Share this

Blog, Updated at: 22.00

0 komentar:

Posting Komentar