Ada anak orang kaya. Mereka dari kecil telah kaya. Sampai besar dan dewasa, mereka tetap kaya. Bahkan tambah kaya. Lalu kalian lihat diri kita. Kita tak kaya sejak kecil. Hidup begini-begini saja, tak ada perubahan. Kita ditakdirkan bagi hidup seperti ini.
Hidup tampaknya diikat oleh takdir. Kita bukan pengendali hidup kita. Hidup kami ditentukan oleh banyak faktor. Di keluarga mana kami lahir. Siapa saja yg ada di sekitar kita. Dengan siapa saja kalian bertemu dan bergaul. Kebetulan apa saja yg pernah kami dapatkan dan menguntungkan kita. Pendek kata, kami ini makhluk tidak berdaya dalam lautan takdir.
Benarkah?
Sebenarnya kalian perlu melihat hidup dengan lebih lengkap. Ada anak orang kaya, dan tetap kaya, bahkan jadi lebih kaya. Tapi ada banyak juga anak orang kaya yg jatuh miskin semiskin-miskinnya.
Saya pernah menyaksikan sendiri, anak orang kaya, yg harta orang tuanya aku kira tidak mulai habis buat dua keturunan. Tapi akhirnya aku menyaksikan anak tadi meninggal sebagai orang miskin.
Sebaliknya, ada begitu banyak anak orang miskin yg kemudian menjadi kaya raya. Atau, tadinya anak orang biasa, yg berubah jadi kaya raya.
Mari kami ambil contoh yg sangat terkenal, Bill Gates. Siapa dia? Dia bukan anak orang miskin. Bapaknya pengacara. Tapi orang tuanya bukan orang yg masuk dalam daftar orang terkaya dunia. Bill Gates sendiri yg memasukkan dirinya ke daftar itu.
Sebenarnya ini bukan sekadar soal kaya miskin. Kita sebenarnya tidak perlu peduli soal kekayaan Bill Gates, karena juga tidak mempengaruhi hidup kita.
Tapi siapa dari kalian yg tidak pernah bersentuhan dengan produk Microsoft, perusahaan yg didirikan Bill Gates? Ada milyaran penduduk dunia pernah memakainya.
Apa yg membuat Bill Gates menjadi seperti itu? Ada keluarga yg mendidiknya. Ada pula guru-guru dia, teman-teman dia, lingkungannya.
Tapi kenapa cuma Bill Gates yg jadi seperti itu, tak seluruh orang di lingkungan itu? Karena faktor terbesar dari sukses Bill Gates, ada di tangannya sediri.
Sama halnya, anak-anak orang kaya yg aku sebut di awal tulisan ini, juga demikian. Yang mampu bertahan tetap kaya, atau menjadi lebih kaya, adalah yg melakukan sesuatu. Yang salah dalam menjalankan hidup, mulai terjerembab.
Ya, demikian pula dengan aku dan Anda. Sukses atau terjerembab, ditentukan oleh tangan kami sendiri. Saya tahu, mulai banyak orang yg coba membantah ini. Banyak orang yakin bahwa sukses itu adalah hasil dari berbagai kebetulan yg ada di sekitar kita. Baiklah. Kalau itu yg Anda harapkan, silakan tunggu kebetulan-kebetulan itu.
Kalau Anda tak mau menunggu, maka kalian harus bergerak. Kita tidak boleh lagi menunggu kebetulan-kebetulan. Kita harus bergerak, membuat berbagai kesempatan tiba kepada kita.
Di suatu kuliah aku di kampus, aku bicara tentang pentingnya penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Saya tekankan bahwa kunci penguasaan bahasa itu adalah memakainya dalam keseharian. Saya contohkan bagaimana para santri di Gontor, yg umumnya mahir berbahasa Inggris dan Arab, karena mereka setiap hari menggunakannya.
Seorang mahasiswa berkomentar. Menurut dia, lingkunganlah yg membuat anak-anak di Gontor itu menjadi mahir. Yang tak berada di lingkungan itu, tak mulai mahir. Bagi dia, orang harus berada di lingkungan yg memaksa, buat dapat melakukan sesuatu.
Saya ingatkan dia bahwa para santri itu berada di Gontor bukan kebetulan. Mereka ingin berada di sana, karena memang ingin bisa. Mereka tak dipaksa. Mereka milik tujuan, dahulu mereka pergi ke Gontor.
Tidak cuma itu. Perjanjian bagi terus pakai bahasa Inggris dan Arab itu adalah sebuah komitmen. Yang memaksa bukan orang lain, tetapi santri yg mengikatkan diri pada komitmen itu.
Nah, para mahasiswa di kelas aku tadi, yg tak berada di Gontor, sebenarnya tinggal membuat komitmen yg sama. Mereka dapat bersepakat buat bersama berbicara dalam bahasa Inggris. Yang melanggar dikenai sanksi, misalnya denda. Maka mereka mulai mendapatkan lingkungan yg persis sama seperti Gontor.
Itulah contoh bagaimana perbedaan cara berpikir yg secara fundamental menentukan seseorang mulai sukses atau tidak.
Ada orang-orang yg menganggap hidup ini ditentukan oleh berbagai faktor di luar dia. Singkat kata, ia menyerahkan kemudi kehidupannya kepada pihak lain. Atau, ia menyerahkan remote control kehidupannya kepada pihak lain.
Tidak. Jangan lakukan itu. Rebut kendali itu. Rebut kemudi atau remote control itu, kendalikan hidup dan nasib Anda sendiri.
Tapi bukankah lingkungan juga berpengaruh pada hidup kita? Ya, lingkungan berpengaruh. Tapi, bagaimana pengaruh lingkungan terhadap diri kita, lagi-lagi tetap tergantung pada bagaimana kalian bersikap.
Saat Anda tercemplung di tengah laut, Anda berada pada suatu lingkungan. Apakah Anda mulai mati tenggelam atau selamat, sangat tergantung pada bagaimana Anda bersikap ketika itu.
Ringkasnya, jangan berfokus pada lingkungan, karena ia berada di luar kontrol kita. Fokuslah pada bagaimana kalian bersikap terhadap lingkungan. Dalam hal itu, kami sepenuhnya memegang kendali.
Source : edukasi.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar