CALAIS, - Wali kota Calais Natacha Bouchart, Kamis (2/3/2017), melarang distribusi makanan kepada para imigran demi mencegah munculknya kembali kamp-kamp pengungsi.
Natacha, politisi Partai Les Republicains yg berhaluan kanan-tengah mengatakan, dia mulai mengambil langkah yg diperlukan buat mencegah distribusi makan buat para imigran.
Pihak pemerintah kota telah mengirimkan surat pemberitahuan terkait keputusan ini kepada berbagai lembaga amal di kota itu.
Saat ini, berbagai lembaga amal dan pemerintah kota Calais sedang bertarung di pengadilan terkait larangan pendirian kamar mandi untuk pada imigran.
Dalam perintah wali kota itu tertulis "ketenangan dan keamanan" kota terancam oleh banyaknya individu yg membagikan makanan bagi para imigran di sekitar lokasi bekas kamp pengungsi.
Kepolisian setempat kini menjalankan apa yg mereka sebut sebagai "zero tolerancy" terhadap para imigran.
Polisi mengepung mereka dan berusaha membawa mereka ke tempat penampungan resmi di tempat yang lain di Perancis.
"Kami perkirakan terdapat sekitar 300 migran di sekitar Calais yg tidur dalam dingin dan hujan. Selain itu sekitar 60 persen dari mereka adalah anak-anak," kata Lucie Favry dari lembaga amal Utopia56.
Para pekerja amal dan kepolisian mengatakan, jumlah imigran bertambah di ketika orang-orang yg dibawa ke pusat penampungan di semua wilayah Perancis kembali ke lokasi kamp yg lalu dihancuran pemerintah.
Sementara itu, Christian Salome, ketua lembaga amal Auberge des Migrants mengatakan, melarang distribusi makanan bakal menyengsarakan anak-anak imigran.
"Orang dewasa masih dapat membeli makanan sendiri tapi buat anak-anak hal ini mulai menjadi persoalan besar. Mereka tidak milik uang," ujar Christian.
Menteri dalam negeri Bruno Le Roux yg dua hari dulu meninjau kawasan tersebut menegaskan tidak ada pembangunan pusat penampungan baru bagi mencegah datangnya imigran dalam jumlah besar ke Calais.
Source : internasional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar