CIREBON, - Sejumlah warga dari empat desa menggelar unjuk rasa di area kantor Gerbang Mertapada Tol Palimanan-Kanci (Palikanci), Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Senin (6/3/2017).
Pengunjuk rasa itu berasal dari Desa Mertapada, Japura Bakti, Japura Lor, dan Astana. Mereka menjadi korban banjir pada Februari 2017.
Warga menuntut agar pengelola jalan tol langsung memperbaiki kerusakan saluran air yg dianggap menyebabkan sumbatan dan membanjiri pemukiman warga tiap kali hujan deras.
Setiba di lokasi, warga selalu mengatakan tuntutannya. Aksi yg semula damai itu tiba-tiba diwarnai kericuhan.
Warga bergegas menerobos barisan polisi dan hendak menemui pihak pengelola tol. Sejumlah warga terlibat saling dorong dengan petugas. Massa aksi segera mundur menghindari potensi kericuhan yg membesar.
Unjuk rasa ini yaitu kali ketiga. Mereka kembali turun ke jalan karena menilai pengelola tol, yakni PT Waskita, sangat lamban bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yg terjadi.
Warga kecewa karena kerusakan saluran di sisi jalan tol itu menjadi penyebab terjadinya banjir.
Kepala Bidang Pengawasan Waskita Gerbang Mertapada Tol Palikanci Erwan Ari Pamungkas menyampaikan telah dan sedang merapikan sejumlah saluran air yg diduga menjadi penyebab terjadinya banjir. Pihaknya langsung memprioritaskan penyelesaian di sejumlah titik yg dihuni banyak warga.
"Kita telah laksanakan normalisasi dengan manual. Kemudian kami juga telah memakai ekskavator kecil karena yg besar tak memungkinkan. Kapasitasnya tak terlalu jauh. Intinya kalian telah lakukan normalisasi dengan alat," katanya seusai menemui warga.
Ari berusaha menjawab sejumlah tuntutan lain, yakni pembuatan senderan permanen dengan pasangan batu kali.
Dia mulai melakukan permintaan tersebut cuma pada lokasi crossing jalur dari selatan ke utara. Hal itu dimaksudkan agar jalur itu bisa dibersihkan ketika terjadi sumbatan.
"Kita utamakan yg crossing-crossing dulu. Seluruhnya ada lima titik, beberapa di sekitar pemukiman warga dan tiga di luar. Minggu kedua April bisa selesai," ujar Ari.
Mae Azhar, koordinator aksi, mengaku kecewa karena pengelola tol berulang kali mengatakan jawaban serupa tanpa realisasi.
Pria yg mengaku sebagai petani ini menjadi korban banjir tiap kali hujan datang. Warga yg berada di sekitar saluran air yg rusak menjadi korban terparah dan telah bosan digenangi banjir.
"Hari ini memang akumulasi kekecewaan dari tahun ke tahun yg dialami warga sekitar. Kekecewaan masyarakat. Terowongan saja di bawah tol saat hujan besar banjir mencapai sesuatu meter. Begitupun di pemukiman warga," katanya di tengah kerumunan warga.
Selain mengatakan protes, mereka juga membangun tenda dan dapur umum di lapangan kantor gerbang Mertapada Tol Palikanci. Mereka membuat tempat istirahat bagi pada warga, khususnya para ibu rumah tangga yg rela meninggalkan rumah bersama anak-anak mereka.
Azhar memastikan mulai bersiap berhadapan dengan petugas tol maupun kepolisian bila terjadi pengusiran paksa.
"Kita mulai selalu bertahan, hingga tuntutan warga demi terhidar dari banjir terealiasi," kata dia.
Source : regional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar