GUNUNGKIDUL, - Gua Braholo di Dusun Semugih, Desa Semugih, Rongkop, sama dengan gua batuan karst di wilayah Gunungkidul. Namun, gua tersebut ternyata yaitu sebuah saksi kehidupan manusia purba.
Lokasi Goa Braholo dapat dikatakan cukup jauh dari pusat Kabupaten Gunungkidul. Setidaknya sekitar beberapa Jam perjalanan dengan sepeda motor.
Gua Braholo tepat berada di lereng sebuah bukit, sehingga pengunjung harus menaiki sejumlah anak tangga buat mampu sampai ke mulut gua.
Suasana teduh dan sunyi mulai menemani perjalanan menunju mulut Gua Braholo. Dari mulut gua, lubang pada ruangan bagian dalam mulai kelihatan dengan kedalaman bervariasi.
Lubang tersebut yaitu bekas ekskavasi pada tahun 1994 sampai 2000 silam.
Di papan keterangan yg terpasang di pintu masuk gua, tertulis bahwa proses ekskavasi dikerjakan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta yg dipimpin Prof Truman Simanjuntak.
Dari 14 kotak ekskavasi, tim peneliti menemukan berbagai peralatan dan sisa makanan zaman purba. Beberapa di antaranya serut penusuk, mata panah, fosil kayu, tulang-tulang fauna besar, sisa biji-bijian yg sebagian terbakar, dan cangkang kerang.
Tim peneliti juga menemukan benda penting, yakni kerangka manusia purba. Kerangka yg ditemukan pun dalam keadaan yg relatif masih utuh.
"Saat itu kebetulan aku ikut bantu-bantu dalam proses ekskavasi. Digali ada yg 3 meter sampai 7 meter dan ditemukan delapan kerangka manusia purba," ujar pemilik tanah sekaligus pengelola Gua Braholo, Kusno (60), akhir Februari 2017.
Menurut Kusno, ketika menolong ekskavasi, ia melihat tulang yg ditemukan. Perbedaan dengan manusia ketika ini adalah bentuk kepalanya lebih besar.
"Tengkorak kepalanya itu lebih besar. Posisinya duduk, kakinya ditekuk, punggungnya menyatu sesuatu sama lain," kata dia.
Dari keterangan yg didapatnya, ketika ini kerangka delapan individu manusia purba yg ditemukan di Gua Braholo dan disimpan di Museum Punung, Pacitan, Jawa Timur.
"Setahu aku disimpan di Punung, Pacitan, sana," ujarnya.
Dari proses penelitian selanjutnya, diketahui bahwa kemungkinan manusia purba yg hidup di Gua Braholo pada waktu itu telah membagi ruangan.
Sisi kanan gua sebagai digunakan tempat membuang sampah. Dari ekskavasi di sisi kanan ini, ada temuan berupa kerang, tulang hewan, dan sisa biji-bijian.
"Posisi kiri gua itu, kemungkinan lalu digunakan buat tidur. Itu kata peneliti yg melakukan ekskavasi di sini cerita kepada saya," tutur Kusno.
Dosen Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Hery Santosa mengatakan, penemuan itu mampu dilihat dari ketebalan tanah di dalam goa. Ketebalan tanah dapat memperlihatkan tahun perkembangan manusia.
Meski demikian, jejak manusia purba sekitar 30.000-an tahun dahulu banyak ditemukan di gua-gua karst. Di zaman itu, gua karst dijadikan tempat hunian tak permanen atau sementara.
"Salah satunya di Gunungkidul. Gua karst di sana banyak yg dijadikan hunian sementara di zaman itu," kata dia.
Pada ketika itu, manusia hidup berpindah-pindah bagi mencari sumber makanan. Dalam perjalanannya, mereka memerlukan tempat berlindung, baik berlindung dari cuaca maupun binatang buas.
Lokasi hidup manusia prasejarah mampu ditemukan memanjang dari Gunungkidul hingga Ponorogo, Jawa Timur.
"Manusia ketika itu belum berpikir menimbun makanan. Saat berpindah, mereka juga meninggalkan peralatan," urainya.
Ia menyatakan, dari penelitian yg pernah dilakukannya, Gunungkidul yaitu salah sesuatu perpustakaan dalam meneliti zaman prasejarah. Sungai Oya, Gunungkidul, misalnya, menjadi tempat temuan berbagai peralatan dan fosil.
"Gunungkidul itu seperti 'perpustakaan hidup', banyak yg belum terdokumentasikan," kata Hery.
Source : regional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar