LAMPUNG, - Telkomsel tidak tanggung-tanggung dalam upayanya membangun jaringan internet 4G LTE yg menjangkau segala Indonesia dan pelosok. Perusahaan pelat merah ini bahkan menyiapkan 70 persen dari belanja modal (capex) di 2017 bagi urusan tersebut.
“Kami siapkan 70 persen belanja modal 2017 buat pembangunan 4G. Tentunya dengan adanya pembangunan itu mulai mendukung pembangunan di berbagai daerah. Harapannya mampu menjangkau semua ibu kota kabupaten di Indonesia yg totalnya sekitar 540-an,” ujar Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah di sela Peresmian 4G di Seluruh Ibu Kota Kabupaten Sumatera, Jumat (17/3/2017).
“Besarnya belanja modal kalian biasanya 15 persen dari pendapatan tahun tahun sebelumnya. Pada tahun 2016 dulu pendapatan kita sekitar Rp 86 triliun,” imbuhnya.
Dia menambahkan, berdasarkan perhitungan itu, belanja modal Telkomsel buat tahun 2017 mulai berada di kisaran Rp 12,9 triliun. Sedangkan 70 persen dari belanja modal tersebut atau Rp 9 triliun bakal dipakai bagi membangun 4G, baik dari sisi jaringan atau non jaringan.
Direktur Network Telkomsel Sukardi Silalahi menyampaikan ketika ini Telkomsel telah memasang base transceier station (BTS) 4G di berbagai ibu kota kabupaten di segala Indonesia. Tinggal sekitar 50 ibu kota kabupaten saja yg sama sekali mendapatkan BTS tersebut. Rencananya, sisa 50 ibu kota kabupaten itu mulai akan mendapatkan BTS 4G pada 2017 ini.
Namun perlu dicatat, pemasangan BTS 4G yg disebutkan oleh Sukardi yaitu tahap awal. Meski telah ada BTS 4G di ibu kota kabupaten tertentu, tak berarti semua masyarakat di sana bakal dapat mengakses jaringan internet 4G.
Ririek menambahkan, segala masyarakat di ibu kota kabupaten dapat merasakan kecepatan internet 4G, perusahaan perlu melakukan perluasan jangkauan. Misalnya dengan tidak mengurangi jumlah BTS yg memancarkan sinyal 4G di suatu ibu kota kabupaten.
Perluasan jangkauan 4G ini mulai dikerjakan berdasarkan kajian terhadap ibu kota kabupaten masing-masing. Jika kajian memamerkan adanya potensi pengguna yg tinggi, penetrasi handset yg merata, maka perluasan mulai langsung dilakukan.
“Untuk blanket coverage atau jangkauan yg menyelimuti suatu ibu kota kabupaten, kalian masih perlu mengkaji banyak hal lebih dulu. Jadi sebelum membangun 4G kita mempertimbangkan dua hal, termasuk ketersediaan infrastruktur seperti fiber optik, radio atau satelit, dan penetrasi handset 4G. Kan percuma kalau misalnya telah bangun, tetapi ternyata handset yg dapat memakainya masih sedikit,” ujar Ririek.
“Kami biasanya mulai menyebutkan telah meng-cover sesuatu wilayah seandainya jangkauan kalian di sana telah mencapai minimal 80 persen. Kalau belum ya belum kita umumkan sebagai ter-cover,” imbuhnya.
Source : tekno.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar