DENPASAR, - Waktu baru memperlihatkan pukul 19.00 Wita. Namun, halaman studio Lingkara Photography Community di Jalan Merdeka IV Nomor 2 Renon - Denpasar, telah dipadati pengunjung pada Kamis (16/3/2017).
Ada yg berdiri sambil menikmati minuman. Ada yg duduk di halaman berumput atau sekadar mengobrol. Mereka kelihatan antusias. Rupanya mereka ingin menikmati penampilan Antrabez band.
Suasana makin meriah saat Antrabez band akan membawakan sesuatu demi sesuatu lagu andalannya. Sambil menikmati musik, para penonton sesekali bertepuk tangan sambil bersorak sesaat setelah sang vokalis menamatkan sesuatu lagu.
Band yg digawangi Octav Sicilia (bass/pencipta lagu), Riva Nawawi (gitaris), Dwi Febri (vokalis), Ronald Sudibyo (keyboard) dan Daus Bolang (drummer) terbilang spesial. Seluruh personelnya yaitu warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan, Denpasar. Kelimanya adalah narapidana dalam perkara penyalahgunaan narkoba.
Penampilan Antrabez sangat memukau dengan menyajikan sejumlah lagu dari album perdana yg ditelurkan di balik tembok penjara. Kerasnya kehidupan dalam lapas ternyata tak membuat kreativitas mereka mati. Rasa sedih, pergulatan batin, kerinduan pada keluarga dan Tuhan dituangkan dalam 7 lagu yg dikemas dalam album bertajuk “Saatnya berubah”.
Febri menuturkan, sebelum dipenjara, dirinya adalah pecandu narkoba macam sabu-sabu. Di dalam penjara dirnya mengalami pergulatan luar biasa.
“Awalnya saat masuk lapas jadi kaget, tempat apa ini,” tuturnya.
Di dalam lapas awalnya Febri diberi tugas merawat anjing. Seiring berjalannya waktu, Febri mengalami prubahan ke arah yg lebih baik. Oleh petugas di Lapas Kerobokan, Febri dibina dan diberi ruang buat mengembangkan kreativitasnya dengan bergabung ke dalam band.
“Di sanalah aku sadar sudah tersesat dan akhirnya menemukan Tuhan, beruntung aku diberi kesempatan oleh kalapas buat mengembangkan potensi dalam bermusik,” kata Febri.
Bersama rekan lainnya sesama penghni lapas, Febri menggarap sejumlah lagu yg kemudian dikemas dalam album perdana. Melalui lagu, Febri dan teman-temannya ingin nengajak masyarakat bagi tak memakai narkoba. Lakukan hal-hal positif dan tak melanggar hukum.
“Pesannya dekatkan diri pada Tuhan, hindari kriminalitas apalagi yg berhubungan dengan narkoba, masuk penjara itu nggak ada enaknya,” kata Febri.
Personel band lainnya, Oktav merasa sebagai orang beruntung karena terplih bagi menciptakan lagu dan membina personel band lainnya. Selama empat bulan, ia keluar masuk penjara dalam rangka penggarapan album. Tidak jarang harus pulang pagi ke Lapas Kerobokan demi menuntaskan rekaman di Antida Music Studio. Sampai akhirnya ia dan bandnya dapat launching album di dalam lapas.
“Ini band pertama yg dapat menelurkan album sekaligus peluncurannya di dalam lapas, dengan ini kalian dapat membuat contoh di dalam sana,” kata Oktav.
Kalapas Krobokan, Tomni Nainggolan menuturan, pembentukan band yaitu bagian dari upaya pembinaan. Selan band, juga ada kegiatan yang lain berupa olahraga, pelatihan keterampilan sablon dan kegiatan positif lainnya.
Melalui kegiatan bermusik, Lapas Krobokan ingin mengangkat martabat para warga binaan. Sekaligus member contoh positif.
“Dengan musik kita ingin memanusiakan warga binaan,” kata Nainggolan.
Source : regional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar