Penderitaan Bayi Iftiyah akibat Terkena Virus Rubella

Posted by rarirureo on 2/04/2017

Penderitaan Bayi Iftiyah akibat Terkena Virus Rubella

MEDAN, - Awal Februari kemarin, Iftiyah genap berusia tujuh bulan. Dia adalah gadis mungil yg ceria dan sehat, setidaknya tidak pernah memamerkan rasa sakit dengan tangisan akibat penyakit yg dideritanya.

Padahal, matanya harus dioperasi karena katarak. Telinganya tidak bisa mendengar. Belum lagi dua selang tertanam di tubuhnya bagi menolong pernapasan.

Iftiyah adalah anak kedua pasangan suami istri Ratih dan Kesuma Ramadhan. Lahir di RS Bunda Thamrin Medan dengan berat 1,7 kilogram, bayi Iftiyah masuk kategori berat badan lahir rendah (BBLR). Akibatnya, tubuh mungilnya harus berada di ruang inkubator selama seminggu. Setelah itu, dia dibawa pulang dengan harapan tumbuh dengan berat badan normal seperti bayi lainnya.

"Awalnya kalian melihat ada yg yang lain di matanya. Kami pun mendatangi RSUD dr Pirngadi. Setelah diperiksa, dokter menyatakan katarak kongenital dan harus dioperasi. Penglihatannya mampu diselamatkan tetapi dengan menanamkan lensa," kata Ratih, Jumat (3/2/2017).

Sebelum operasi pengangkatan katarak, Iftiyah menjalani serangkaian pemeriksaan medis, antara yang lain cek darah, jantung dan rontgen paru-paru. Hasilnya, dokter menemukan ada kelainan lain.

Iftiyah terkena bronco pneumoni. Dokter spesialis jantung juga mencurigai ada virus toxo dan rubella yg menyerang Iftiyah sejak di dalam kandungan. Analisis dokter ini menunda pelaksanaan operasi katarak selama seminggu.

Tak sampai di situ, Iftiyah harus menjalani serangkaian tindakan medis karena suhu tubuhnya naik turun, bahkan sempat dirawat inap selama tiga hari akibat infeksi pada darahnya.

Dokter menyarankan Iftiyah dirujuk ke RSUP H Adam Malik bagi pemeriksaan lebih lanjut terkait indikasi adanya virus toxo dan rubella yg menyerang dua organ tubuhnya.

Hari pertama di rumah sakit itu, dilakukanlah pengambilan sampel darah. Sambil menunggu hasil cek laboratorium, besoknya pemeriksaan dilanjutkan di ruang echo jantung.

"Hasilnya, ada kelainan di jantungnya. Ada lubang kecil di luar jantung, orang bilang jantung bocor. Besoknya lagi, hasil pemeriksaan THT, dokter bilang ada persoalan pada telinga. Belum mampu memastikan bagian saraf mana yg terganggu, cuma kalau masih ada sisa pendengaran, mulai memakai alat. Kalau tak ada, harus operasi melalui pemasangan implant," kata Ratih dengan muka sedih.

Selasa, 27 Desember 2016 hasil lab pemeriksaan virus TORCH positif menyatakan anaknya terinfeksi virus rubella sejak dalam kandungan. Dokter menjelaskan, virus yg ada dalam darah itu ketika ini telah menjadi antibodi.

"Semuanya telah aman, tinggal membenahi apa yg telah dirusak rubella saja. Tapi anak kalian butuh alat bantu dengar, BPJS cuma menanggung Rp 1 juta, sementara harganya sekitar Rp 20 juta lebih buat beberapa unit. Kami masih cari alat bantu dengar dulu, biar mampu terapi sambil persiapan operasi jantungnya," ucap Ratih.

Ratih dahulu membagikan kisah penderitaan anaknya di media sosial Facebook. Dia menceritakan awal kehamilannya hingga kelahiran Iftiyah. Tujuannnya agar para ibu mengambil pelajaran dan mendapat pengetahuan.

"Alhamdulillah banyak yg respons, rekan-rekan jurnalis pada datang, ibu dan bapak tiba ke sini," ucapnya senang walau raut sedih tidak bisa ditutupinya.

Ditengok istri gubernur

Pemberitaan tentang nasib Iftiyah mengundang empati Evi Diana Sitorus, istri Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi. Dia mendatangi kediaman Iftiyah di Jalan Sei Kapuas Nomor 9B, Medan.

Dengan mata berkaca-kaca, Evi menggendong dan memeluk Iftiyah. Dia yakin, tidak gampang untuk Iftiyah dan kedua orangtuanya melewati hari-hari dengan sabar. Evi yakin bahwa pasti ada jalan terbaik buat seluruh cobaan.

“Kami bantu pemasangan alat bantu dengar buat Iftiyah, ini sedikit perhatian kita dari pemerintah buat kesembuhannya. Mudah-mudahan diangkat penyakitnya oleh Allah,

Plt Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Agus Tama mengakui selama ini belum ada laporan soal rubella. Dia menyarankan agar para ibu hamil terus berkonsultasi dengan bidan dan dokter di puskesmas.

"Kalau menyerang orang dewasa tak masalah, kalau menyerang ibu hamil mulai berdampak. Kami mulai bantu dan merujuk Iftiyah ke RS Murni Teguh. Apa yg diperlukan Iftiyah nanti kalian siapkan," janji Agus.

Agus menyatakan, sampai hari ini vaksin virus rubella belum tersedia.

"Baru mulai ada tahun depan, mudah-mudahan tahun depan telah ada vaksinnya," ujarnya.

Sementara itu, dr Adlin Adnan Sp THT mengatakan, rubella atau campak Jerman masuk macam penyakit kelompok Toksoplasma, Rubella, Sitomegalovirus atau CMV dan Herpes simpleks (TORCH).

Virus ini berakibat fatal untuk pertumbuhan dan kehidupan janin. Janin mulai terancam menderita kelainan jantung, kehilangan pendengaran, retardasi mental, kelainan bentuk dan fungsi mata, katarak, hidrosifalus, gangguan pada sejumlah organ seperti jantung, paru-paru dan limpa, lahir dengan BBLR, hepatitis, radang selaput otak, dan lainnya.

Kebanyakan ibu hamil tak merasakan gejala apa pun. Biasanya cuma demam ringan, pusing, flu, mata merah dan nyeri pada persendian. Sampai ketika ini, belum ada cara mengobatinya, namun dapat diantisipasi melalui vaksin MMR.

"Tindakan preventif harus digalakkan pemerintah. Virus ini efeknya untuk anak sangat fatal, kasihan kalau sampai menyerang ibu hamil," katanya.

Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan Sumut, Hikmed mengatakan, pada 2018 nanti Sumatera Utara mulai melakukan kampanye soal pencegan virus rubella. Sementara pada 2017 ini kampaye sedang berlangsung di pulau Jawa.

World Health Organization (WHO) menyatakan, harus dikerjakan pencegahan massal dengan vaksin terhadap virus rubella. Perempuan yg mau menikah atau hamil divaksin minimal sebulan sebelum kehamilan. Vaksin juga harus dikerjakan pada anak berusia 12 sampai 15 bulan.

Sekarang tahap sosialisasi dan penyuluhan ke kabupaten dan kota agar melaksanakan kampanye bersama pada 2018 nanti. Pemerintah diharapkan membuat anggaran kampanye melalui APBD atau Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

Kabupaten/kota juga harus menyiapkan data anak usia 12 sampai 15 bulan serta ibu yg mau berumah tangga. Vaksinasi massal di Indonesia dikerjakan dengan waktu berbeda, bagi Jawa pada 2017 ini.

"Kalau sempat ibu menderita virus rubella, anak yg dilahirkan dapat cacat. Imunisasi massal menghindari terjadinya congenital rubella syndrom. Vaksinnya telah dibuat buat campak dan rubella. Kasus rubella ada di Indonesia, tetapi tak diketahui, baru diketahui setelah anak dilahirkan," ungkap Hikmed.

Kalau telah divaksin, lanjut dia, bayi yg lahir cacat berarti bukan karena rubella. Ciri-ciri rubella mampu dilihat dengan adanya ruam warna merah muda khas. Diawali bintik-bintik yg dapat gatal, menyebar akan belakang telinga, kepala, leher, kemudian bagian tubuh lain. Ruam biasanya berlangsung sampai seminggu.

Gejala lainnya adalah pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar telinga dan belakang kepala, badan panas dan menggigil.

"Virus rubella bisa menular dari orang yg terinfeksi batuk atau bersin, menyebar melalui kontak segera dengan sekret pernapasan orang yg terinfeksi, seperti lendir atau ingus. Pencegahan awal adalah menjaga kebersihan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat," tegasnya.


Source : regional.kompas.com

Share this

Blog, Updated at: 12.30

0 komentar:

Posting Komentar