NEW YORK, Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump mengaku yakin dengan kesimpulan dinas intelijen AS yg menyebut Rusia melakukan serangan siber bagi mengintervensi pemilu di AS.
“Sepanjang tindakan peretasan, aku pikir itu dikerjakan Rusia," ungkap Trump menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers di Trump Tower, New York, Rabu pagi waktu setempat.
“Namun sebenarnya, aku pikir, kalian pun diretas oleh negara-negara lain, dan orang-orang lain," sambung dia.
"Misalnya saat AS kehilangan 22 juta nama, dan informasi-informasi yang lain yg diretas ketika sekarang, mereka tak membuat kesepakatan besar dari itu, itu adalah satu yg luar biasa," kata Trump lagi.
Trump lantas mendapat pertanyaan, apakah dia mengirim pesan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin terkait fakta tersebut, dan kemungkinan aksi peretasan Rusia di masa depan.
“Dia (Putin) tidak perlu melakukan itu, dia tidak mulai melakukan itu," jawab Trump.
“Rusia mulai lebih menghormati negara AS, saat negara ini dipimpin oleh saya, dibanding oleh orang lain. Kalian mulai menyaksikan itu," ungkap Trump.
Trump juga mengaku menganggap Putin sebagai aset ketimbang sebagai beban buat AS.
“Sekarang, aku belum tahu apakah aku mulai selalu berdampingan dengan Vladimir Putin. Saya harap demikian, Tapi apakah anda yakin bahwa Hillary Clinton mulai lebih kuat menghadapi Putin dibanding saya?" cetusnya.
Seperti diberitakan laman CBS News, Trump akhirnya berbicara kepada media dalam konferensi pers tersebut.
Ini menjadi "pertemuan" pertama dia dengan media, setelah kemenangannya dalam pemilihan presiden November lalu.
Jumpa pers selama sesuatu jam itu semula digagas buat menjelaskan apa yg mulai dikerjakan Trump demi menghindar dari konflik kepentingan dengan bisnis pribadinya.
Namun, media yg hadir justru menyasar komentar Trump terkait tuduhan intervensi Rusia dalam pemilihan presiden yg baru lalu, sesuai dengan laporan intelijen AS.
Source : internasional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar