BALIKPAPAN, Pakar ekologi beruang madu (herlatos malayanus) dari Yayasan Pro Natura, Gabriella ‘Gebi’ Fredriksson, mengingatkan seluruh pihak agar tak terburu-buru dalam menangani beruang madu di kebun binatang Bandung, Jawa Barat.
Menurut dia, beruang madu memiliki yang berasal habitat. Mereka juga memiliki perbedaan antara habitat sesuatu dengan yg lain.
Gebi mengatakan, beruang madu banyak ditemui di Kalimantan, Sumatera, dan mendiami Asia Tenggara pada umumnya.
“Harus diketahui riwayat beruang itu berasal dari mana,” kata Gebi, Jumat (20/1/2017).
Beruang madu berdasar yang berasal habitat memiliki perbedaan ukuran baik berat maupun tinggi badan. Rata-rata berat beruang madu Kalimantan 30-40 kilogram, sedangkan Sumatera dan Asia Tenggara pada umumnya 50-60 Kg.
“Beruang madu Sumatera lebih besar 30 persen ketimbang Kalimantan,” kata Gebi.
Dengan perbedaan itu, Gebi mengharapkan seluruh pihak tak terburu-buru menetapkan mulai merawat atau memelihara beruang madu kurus ini.
“Karena kalau dilihat dari foto-fotonya (di laman berbagai berita) beruang madu itu tampaknya berasal dari Sumatera, karena ukurannya lebih besar,” kata Gebi.
Sebelumnya diberitakan bahwa Pemerintah Balikpapan memiliki niat bagi merawat beruang madu kurus dari kebun binatang Bandung ini. Niat ini muncul dari berbalas pesan dan status via instagram antara Walikota Balikpapan, Rizal Effendi, dan Walikota Bandung, Ridwan Kamil.
Baca: Tak Terima Maskotnya Kelaparan, Balikpapan Siap Tampung Beruang KBB
Menurut dia, Pemerintah Balikpapan diyakini terdorong oleh keprihatinan pada satwa yg yaitu ikon kota. Selain itu, Pemerintah Balikpapan juga diyakini terlalu bersemangat karena kebanggaan bahwa Balikpapan memiliki pusat pendidikan dan percontohan (enclosure) habitat beruang madu yg dikelola sangat baik.
Enclosure itu dinamai Kawasan Wisata Pendidikan lingkungan hidup (KWPLH) Balikpapan. “Beruang madu di sana itu binatang cantik, hebat, dan menjadi duta besar. Di sana kalian dapat belajar seperti apa perlindungan buat beruang madu,” kata Gebi.
Dengan memiliki enclosure tak berarti satwa dari luar dapat begitu saja dikirim ke Balikpapan. “Karena KWPLH bukan tempat penyelamatan, tapi pusat pendidikan dan percontohan,” kata Gebi.
“Sebenarnya ada pusat rescue di BOSF Samboja Lestari. Di sana ada 44 beruang madu, tetapi sedang kewalahan karena semakin bertambahnya beruang dan orangutan. Mereka juga memerlukan enclosure baru sehingga yg diselamatkan dapat hidup lebih baik,” tambah dia.
Gebi menyarankan kedua pemerintah bekerja sama membangun kawasan konservasi yg lebih baik di Bandung, khususnya bagi beruang madu. Menurut dia, KWPLH mampu jadi percontohannya. Sorotan publik lewat media sosial dan pemberitaan dapat menjadi awal upaya perbaikan.
Beruang madu hewan sangat aktif namun sensitif, baik pengelihatan maupun penciumannya. Di habitat aslinya, ia hidup dalam hutan dengan tanah sebagai alasnya. Ia tak kena sinar matahari secara langsung, tak berhenti mencari makan di alam dari pagi sampai malam, suka menggali tanah, memanjat pohon, hingga membuka buah.
Kondisi kebun binatang dengan alas semen tentu malah membuat menderita beruang madu. “Tidak ada tanah buat digali. Ini mampu menimbulkan persoalan baik fisik, tak milik nafsu bergerak lagi, bahkan menjadi setengah gila,” kata Gebi.
Karenanya enclosure yg ideal adalah yg terbaik untuk beruang madu di Bandung. “Balikpapan bisa, kalian percaya Bandung juga bisa,” kata Gebi.
Sementara itu, Kepala Badan lingkungan hidup Balikpapan, Suryanto mengakui bahwa ketika ini pemerintah berniat membuka komunikasi dengan pemkot Bandung buat melihat kemungkinan dapat tidaknya beruang madu dikirim ke Balikpapan.
Suryanto mengatakan, segala mampu diawali dari meneliti spesies yang berasal beruang madu. "Pak Wali telepon ia ingin berkordinasi (dengan pemkot Bandung) buat mengamankan beruang madu. Tapi diawali lewat diskusi dengan BKSDA, memang harus dilihat dari spesies mana, apakah itu Kalimantan atau Sumatera. Endemik mana. Perlu dipastikan itu," kata Suryanto.
Ia menegaskan, pemerintah semata-mata terpanggil karena beruang madu yaitu ikon kota Balikpapan. "Wajar kalau kami prihatin," katanya.
Source : regional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar