MEDAN, Seiring perubahan zaman, paradigma pembangunan pun selalu mengalami perkembangan.
Pemerintah tak lagi menjadi satu-satunya penggerak pembangunan. Masyarakat sudah ikut menjadi inisiatornya dan bisa memamerkan hasil kerja yg mengagumkan bagi membangun lingkungannya.
”Paradigma pembangunan abad 21 ditujukan buat membangun kemandirian warga. Partisipasi warga yaitu kunci keberhasilan pembangunan,” kata Communication Specialist USAID PRIORITAS Sumatera Utara, Erix Hutasoit, Sabtu (21/1/2017) Saat menjadi pembicara soal menulis best practices buat pembangunan di Medan.
Erix mengatakan, lembaga seperti Centre for Disaster Risk Management & Community Development Studies (CDRM&CDS) Universitas HKBP Nommensen sudah memiliki pengalaman mendorong partisipasi warga membangun lingkungan masing-masing.
Dia percaya banyak keberhasilan yg telah dicapai CDRM&CDS. “Sudah bantu masyarakat mengurangi risiko bencana, ini pekerjaan hebat..!” ucapnya.
Dia bilang, apa yg telah dikerjakan lembaga ini perlu didokumentasikan melalui penulisan best practices, pembuatan video dokumenter, penerbitan media, foto, dan arsip sehingga strategi kerja, metode dan fakta-fakta keberhasilannya dapat terangkum menjadi pengetahuan baru.
”Ini disebut knowledge management. Dengan pengetahuan yg telah tersistematika, kalian dapat mewariskan pengetahuan baru kepada anak cucu buat menghadapi bencana di masa depan. Bahkan komunitas masyarakat yang lain dapat menirunya. Menyebarluaskan best practices mulai mempercepat pembangunan dan kemandirian warga,” ujar ahli komunikasi yg pernah belajar community development di Inggris ini.
Direktur CDRM&CDS Kepler Silaban mengatakan, sejak 2008 pihaknya fokus memperkuat kemampuan masyarakat bagi mengurangi risiko bencana.
Masyarakat dibuat dapat menganalisa risiko bencana yg ada di lingkungan mereka, mengukur kemampuan buat menghadapi bencana dan menyusun rencana aksi.
”Mereka kalian latih dan simulasikan tentang aksi tanggap darurat kebencanaan, bagaimana menyelamatkan diri saat bencana,” kata Kepler.
Selain penanganan bencana, pihaknya juga mempromosikan pengembangan ekonomi. Masyarakat dilatih mengelola tanah secara organik, membuat pupuk organik dan beradaptasi terhadap perubahan iklim.
”Kami bantu mereka menyusun rencana, melakukan aksi dan bagaimana mitigasi terhadap perubahan iklim,” tutupnya.
Source : regional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar