JAKARTA, - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon menilai, pernyataan Fahri Hamzah di akun Twitter-nya tak mengandung unsur penghinaan kepada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.
"Saya kira yg disampaikan saudara Fahri biasa saja ya, maksudnya adalah membela kaum pekerja. Kalau dari nada bicara itu malah membela, bukan justru menafikan. Justru kami harus berikan tempat yg terhormat," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (27/1/2017).
Menurut Fadli, tidak ada persoalan dari kosa kata yg digunakan Fahri di akun Twitter-nya. Fadli menilai, penggunaan kosa kata sangat bergantung dari kebiasaan dan selera seseorang, sehingga tidak perlu dipermasalahkan.
(Baca: Terkait Kicauan "Babu", Fahri Hamzah Minta Maaf)
/Nabilla Tashandra Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI Fahri Hamzah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/12/2016)Fadli menuturkan, apa yg disampaikan Fahri melalui akun Twitter-nya justru hendak menghargai kerja keras para TKI di luar negeri serta mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan mereka sapi perahan dengan cuma memanfaatkan devisanya.
"Bung Karno diksinya malah lebih tajam seperti 'bangsa kuli'. Saya kira itu tergantung rasa bahasa kita. Kalau menurut aku tak ada maksud menghina atau melecehkan di situ," papar Fadli.
(baca: Rieke Bela Fahri Hamzah soal Kicauan "Babu")
Fahri sebelumnya dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) oleh Koalisi Masyarakat Sipil buat Perlindungan Buruh Migran.
Koalisi tersebut di antaranya terdiri dari Migrant Care, Indonesia Corruption Watch (ICW), Institute Kapal Perempuan, Koalisi Perempuan Indonesia, dan dua LSM lainnya.
(baca: TKI di Hongkong Anggap Permintaan Maaf Fahri Hamzah Belum Cukup)
Laporan tersebut menyusul kicauan Fahri di akun Twitter-nya, @Fahrihamzah, yg dinilai melecehkan TKI.
Fahri menulis, "Anak bangsa mengemis menjadi babu di negeri orang dan pekerja asing merajalela."
Belakangan, Fahri Hamzah sudah minta maaf atau kicauan itu. Dia juga sudah menghapus tweet tersebut.
Fahri menganggap berbagai reaksi masyarakat terhadap kicauannya sebagai bahan bagi introspeksi diri.
Fahri menjelaskan, kicauannya sebetulnya tidak berdiri sendiri, tapi fokus terhadap isu nasional. Ia pun tidak menduga kicauannya mulai berdampak pada reaksi keras sejumlah pihak.
Koalisi 55 Organisasi Buruh Migran Indonesia di Hongkong yg tergabung dalam Lingkaran Aku Cinta Indonesia (LACI) mengecam kicauan Fahri.
"Tahukah Bapak bahwa pernyataan Bapak sudah merendahkan martabat dan harga diri kami, para 'pahlawan devisa' yg menyumbangkan remitansi sebesar 7,4 miliar dollar AS atau Rp 97,5 triliun bagi memutar roda perekonomian Indonesia," ujar Nur dalam siaran pers yg diterima Kompas.com.
Nur mengatakan, bukan cuma kicauan Fahri yg membuat mereka berang dan merasa tidak dihargai.
Sebelumnya, kata Nur, dalam sejumlah pemberitaan media, Fahri menyebut bahwa 1.000 TKI di Hongkong hamil dan menyerahkan anaknya ke LSM.
Nur mengatakan, Fahri juga menuding 30 persen TKI di Hongkong mengidap HIV/AIDS. Ditambah melihat kicauan Fahri di Twitter yg menyebut "babu", Nur mengatakan, dia dan koleganya di Hongkong tidak lagi dapat tinggal diam.
"Tahukah Bapak bahwa kalian ini pekerja, bukan babu. Kami mempunyai harkat dan martabat," kata Nur.
"Kami melakukan pekerjaan yg halal dengan setiap tetesan keringat kami, bukan hasil korupsi, apalagi hasil mengemis," lanjut dia.
Kompas TV Migrant Care Laporkan Fahri HamzahSource : nasional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar