MALANG, - Aroma dupa dan asap membumbung memenuhi segala ruang persembahyangan yg ada di dalam Klenteng Eng An Kiong, Jalan Laksamana Martadinata, Kota Malang, Sabtu (28/1/2017).
Sejumlah umat Tionghoa yg terdiri dari Tao, Konghucu dan Buddha Mahayana tiba silih berganti buat memanjatkan doa dalam memperingati perayaan Imlek 2568 atau Tahun Baru China 2017.
Perayaan Imlek kali ini bertepatan dengan tahun ayam api. Dimana, ayam disimbolkan sebagai binatang yg paling dekat dengan manusia.
"Ayam itu terus mencari makan bagi anaknya. Melindungi dan bersiap berkorban seandainya anaknya dalam keadaan terancam," kata Humas Klenteng Eng An Kiong, Bunsu Anton Triono.
Pantauan Kompas.com, mereka yg memasuki Klenteng Tri Dharma itu memulai persembahyangan dengan mengambil dupa yg sudah tersedia.
Mereka dulu membakarya dengan api pelita yg menyala diatas lilin. Setelah itu mereka memanjatkan doa dengan mengangkat dupa yg ujungnya telah terbakar.
Lalu menancapkannya di yulho, atau tempat menancapkan dupa setelah selesai sembahyang.
Bunsu menyebut, ada makna yg terkandung dalam tiga dupa yg dibawa sembahyang dulu ditancapkan itu.
Dupa pertama adalah tantang ketuhanan. Sementara dupa kedua adalah tentang bumi dan dupa yg ketiga adalah tentang manusia. Ketiganya disebut Thian Tie Ren atau Tuhan, Bumi, Manusia.
Ia menyebutkan, terjadinya bencana yg marak akhir - akhir ini disebabkan oleh ketidak pedulian manusia terhadap alam. Banyak manusia yg cuma mengambil keuntungan dari alam tanpa memperbaikinya kembali.
"Sehingga kalian harus sama - sama menjaga. Menjaga dari banjir dan bencana longsor. Karena itu ulah dari manusia itu sendiri," ungkapnya.
Menurutnya, manusia dan alam harus bersinergi. Jika sesuatu pohon ditebang, harus ada penanaman pohon kembali. Dengan begitu, kelestarian alam dan lingkungan tetap terjaga.
"Manusia harus bersinergi. Kalau habis menebang pohon harus ditanami lagi. Jangan nebang pohon cuma menebang saja dahulu tak mau reboisasi. Sampah juga harus dibuang pada tempatnya supaya air - air gampang mengalir dan tak banjir," terangnya.
Begitu juga dengan dupa yg bermakna kemanusiaan. Menurutnya, manusia harus saling mengasihi.
"Ikut melestarikan ciptaannya. Makanya kalau manusia berperang selalu itu merusak," jelasnya.
Kompas TV Kelenteng Sam Po Kong Menarik Warga BerwisataSource : regional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar