Asing terhadap Diri Sendiri

Posted by rarirureo on 1/24/2017

Asing terhadap Diri Sendiri
Oleh: Dedi Mulyadi

GÉDONG DUWUR KALI SAMBUNG

PAGULINGAN SEPI TINGTRIM

PEPETÉTAN SAMIA MURAG

BALINGBING LAN JERUK MANIS

Manusia mulai mencapai puncak kesempurnaan diri manakala dapat berucap secara syar’i dan hakiki tentang beberapa kalimat sabda yg tertulis dalam pusaka sejati bernama Layang Jamus Kalimusada, sebuah pusaka yg dimiliki oleh Pandawa Lima yg tersimpan di dalam diri Darma Kusuma, Raja dari Pandawa Lima.

Pencapaian kesempurnaan diri mampu dikerjakan melalui perjalanan panjang menuju langit sejati. Seluruh perjalanan itu yaitu pembebasan manusia dari segala penyakit hati yg merusak segala nalar nur Ketuhanan.

Penyakit itu yaitu sifat kekanak-kanakan “ujub, riya, takabur, sirik pidik, jail kaniaya, irén pangastén, dudupak rurumpak, teu kaopan teu payaan, kékéd méngkéné buntut kasiran”.

Itulah perilaku yg ada dalam diri manusia; terus iri terhadap keberhasilan orang lain, dendam yg tak pernah berakhir, sombong dan pamer atas ilmu, kekayaan dan kekuasaan, tidak jarang lupa diri, gampang tersinggung, gampang marah, terus ingin mencelakakan orang lain, serta kikir, tak memiliki empati terhadap penderitaan orang lain.

Darma Kusuma yaitu sosok diri yg sempurna dalam melakukan perjalanan kehidupannya karena segala sifat-sifat itu telah terbersihkan melalui perjalanan panjang dengan berbagai derita yg dialaminya dan dapat dilewati dengan penuh kesabaran.

Silih, sindir, sindang, siloka dan sasmita dari rangkaian cerita di atas yaitu narasi kemanusiaan yg sarat dengan nilai-nilai ajaran penyerahan diri secara total kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.

Totalitas pengabdian diri dengan penuh keikhlasan yaitu karakter ajaran yg disimbolkan dengan Pandawa Lima, secara substantif mengajarkan tentang Rukun Islam yg lima.

pemkab Kabupaten Purwakarta Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bersama wayang golekLayang Jamus Kalimusada yaitu manifestasi dari ikrar beberapa kalimat syahadat tentang Kemahatunggalan Allah dan kesempurnaan Rasulullah.

Sistem pengajaran yg seolah tak mengajari, yaitu khazanah Islam Indonesia yg lahir dari keluhuran budi pekerti dan karakter hidup yg penuh dengan kasih sayang, yg di dalamnya mengajarkan hubungan manusia dengan alam serta hubungan manusia dengan manusia.

Kesempurnaan kedua dimensi tersebut adalah kesempurnaan hubungan manusia dengan Tuhannya yg kemudian dilengkapi dengan kaidah-kaidah syariah yg mengatur tata cara beribadah secara ritual kepada Allah Pemilik Semesta Alam.

Mengenali Indonesia dengan berbagai ragam khazanah budayanya adalah hal utama buat mewujudkan sebuah keutuhan masa lalu, masa kini dan masa depan.

Mengingat masa dulu dari sisi akademis dan spiritual adalah kontemplasi kemanusiaan yg semestinya dilakukan. Cita-cita leluhur bangsa harus kalian gali, kalian wujudkan dan kami sempurnakan pada ketika ini buat meraih masa depan.

Seluruh bangsa di berbagai belahan dunia yg mengalami kemajuan di berbagai bidang kehidupan, senantiasa meletakkan masa dahulu kebangsaan sebagai bagian utama dalam menata masa depan rakyatnya.

Spirit nasionalisme atas nama keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanpa memahami, menghormati, dan menyempurnakan nilai-nilai ajaran para leluhur adalah ucapan kosong tanpa makna, bermantra tanpa bertapa, bertitah tanpa rasa.


Source : regional.kompas.com

Share this

Blog, Updated at: 16.30

0 komentar:

Posting Komentar