UNGARAN, - Rona muka Muh Rabin (46) berseri-seri melihat keadaan rumahnya yg telah berubah. Atap rumahnya yg dahulu bolong-bolong sehingga sinar matahari dapat masuk ke rumah ketika cuaca cerah dan bocor ketika hujan kini telah pertemuan dengan atap asbes yg baru.
Lantai semen yg sebelumnya rusak, berlubang dan bergelombang sehingga kursi rodanya sulit digerakkan, kini telah diplester ulang menjadi halus dan rata. Dinding yg kusam, kini telah bersih dengan warna krem yg baru dan dua dinding bata meringis juga telah diplester halus.
"Sekarang telah bagus, dahulu bocor semua. Terimakasih bagi relawan dan seluruh warga yg sudah membantu," ungkap Rabin yg sulit bagi berkata-kata.
Tidah cuma itu, yg lebih membahagiakan warga Dusun Kebonombo, Desa Pagersari, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, ini adalah ia kembali berkumpul dengan ketiga anak-anaknya, Syahid (18), Ikhsan (11) dan Fitri (5).
"Sudah tiga tahun aku tak ketemu anak-anak saya, mereka dibawa ibunya. Hanya anak sulung aku yg dua kali ke sini, itupun tak lama," imbuhnya.
Sejak kedua kakinya lumpuh setelah terjatuh dari lantai beberapa ketika dirinya menjadi tukang bangunan tiga tahun lalu, istrinya, SM (35), pergi lantaran tidak kuat menanggung penderitaan hidup.
Kompas.com/ Syahrul Munir Rumah penyandang disabilitas Muh Rabin (46) warga dusun Kebonombo, Desa Pagersari, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, direnovasi oleh para relawan, aparat TNI dan warga sekitar.Sejak ketika itu, Rabin hidup sebatang kara sebab ketiga anaknya pun ikut dibawa serta istrinya yg ketika ini telah menikah lagi. Sehari-hari, dia hidup dari belas kasihan para tetangganya. Karena tidak lagi mampu bekerja dan merawat rumahnya sendiri, rumah yg ditinggalinya rusak dan tak layak huni.
"Kurang lebih itu sekitar tiga tahunan, keadaan rumah ya telah sangat memprihatinkan, boleh dikatakan tak layak huni. Kumuh dan bercampur dengan ayam. Makanya Alhamdulillah dari bantuan relawan, akhirnya dapat mewujudkan keinginan pak Rabin," ungkap Kades Pagersari Rusdiyono.
Hingga kemudian, seorang netizen mengunggah keadaan Rabin ke media sosial. Istichomah yg juga pekerja sosial di Dinas Sosial itu prihatin lantaran Rabin yg menderita disabilitas karena kecelakan kerja tak masuk kriteria sebagai penerima bantuan tetap dinas sosial.
"Dari PKH itu mengharuskan penerima adalah disabilitas dari bawaan lahir, sedangkan Pak Rabin itu hanya kakinya dan ibaratnya dari kriteria yg ada dia (seharusnya) masih mampu buat beraktivitas. Sedangkan kalau dibidik dari keberadaan anaknya, posisinya kan bersama (mantan) istrinya karena telah bercerai. Jadi dia tak masuk komponen," ungkap Istichomah.
Sebagai pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Dinas Sosial, Istichomah lantas mengupayakan cara yang lain bagi menolong Rabin melalui media sosial. Unggahan foto pak Rabin diatas kursi roda dengan ekpresi wajah yg datar, disertai narasi yg tak dilebih-lebihkan, membuat para netizen iba.
"Riilnya benar-benar memprihatinkan karena keadaan rumahnya benar-benar sangat tak layak dan kurangnya kebersihan di rumah. Jadi kami berupaya bersama-sama bagi membuat perubahan, menyadarkan warga bagi bersama-sama bergotong royong," imbuhnya.
Upaya Istichomah ini rupanya mendapatkan tanggapan positif dari para relawan dan netizen di sekitar Ungaran. Hanya dalam waktu beberapa pekan terkumpul sumbangan sebesar Rp 4 juta dan sejumlah material bagi merenovasi rumah Rabin.
Bermodal sumbangan inilah para relawan yg terdiri dari Grup Ungaran, Paguyuban Ungaran Timur (PUT), Paguyuban Ungaran Barat (PUB), SAR Bumi Serasi (Buser) dan aparat TNI dari kesatuan Koramil 15/Klepu bersama warga sekitar, di penghujung tahun 2016 dahulu mereka bergerak bersama merenovasi rumah Rabin.
Tak cuma rumah, mereka juga memperbaiki perabotan yg rusak dan dua diganti baru.
Koordinator aksi, Serka Mukhtar anggota Koramil 15/Klepu mengungkapkan bahwa keadaan Rabin memang betul-betul memprihatinkan. Ketika tak ada yg memberinya makan, maka dia kadang berpuasa atau makan seadanya.
"Waktu bersama-sama kalian survei kerumahnya, kita melihat sendiri beliau sedang makan ikan asin mentah tanpa nasi. Saya cek ternyata memang kompornya rusak, magic com juga rusak. Jadi dia kalau minum ya air dari bak mandi," kata Mukhtar.
Source : regional.kompas.com
0 komentar:
Posting Komentar